Tuesday, June 23, 2015

Masjid Jami Tua Palopo dan Bua

Masjid Jami Bua dan Palopo sebagai Penggambaran Islam Tertua


Cikal bakal perkembangan ajaran Islam di Sulsel ada di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Sejarahnya tidak lepas dari masjid tua yang dibangun sejak tahun 1593 Masehi.


Oleh: Hidayat Ibrahim, Luwu
Sore itu sekira pukul 16.30 Wita, Kamis, 4 Agustus. Sejumlah anak-anak terlihat sedang asyik naik sepeda di depan masjid tua yang terletak di sisi kanan poros Kota Palopo menuju Kota Belopa, Kabupaten Luwu itu. Mereka adalah generasi yang akan mengumandangkan suara azan di masjid tertua dengan nama Masjid Jami Bua itu. Menurut sejarah, Masjid Jami Bua lebih tua dari Masjid Al Hilal Katangka. Masjid ini dibangun sejak tahun 1593 masehi.

Meski terbilang tua, tapi jika dilihat dari bentuk dan kondisi fisik masjid ini tidak jauh berbeda dengan masjid pada umumnya. Berkubah segi empat berbalut cat warna putih dan hijau dengan menara di sisi kiri masjid. Apalagi desain masjid itu sedikit tersentuh pengaruh modern. Hanya dengan sebuah papan bertuliskan Masjid Jami’ Bua, Desa Tanarigella, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, yang mengisyaratkan kalau masjid tersebut adalah masjid tua.


Perkembangan agama Islam di Sulsel tidak bisa dilepaskan dari sejarah masjid tersebut. Dalam buku sejarah Kerajaan Luwu, masjid ini pula menjadi bukti sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda ketika terjadi insiden tentara Belanda merobek-robek Alquran dan menganiaya penjaga masjid sehingga memicu terjadinya serangan umum, 23 Januari 1946 waktu itu. Usia zamanlah yang memaksa sisa-sisa sejarah Islam di masjid ini bisa dilihat dalam bentuk kubah, tiang tengah masjid dan mimbar. Tiga benda ini yang masih dijaga dengan baik oleh pengurus masjid dan masyarakat setempat. Bahkan, untuk menjaga keutuhan tiang tengah masjid yang bersegi delapan itu, pengelola masjid berinisiatif membungkusnya dengan batu keramik berwarna putih sebagai simbol kesucian.
Demikian halnya dengan kubah masjid yang bersegi empat dengan bentuk bersusun tiga. Oleh tokoh agama setempat meriwayatkan bahwa bentuk kubah itu sengaja dipertahankan sebagai simbol ajaran Islam.


“Tiga susun kubah itu menggambarkan tiga daerah besar di Luwu waktu itu. Khususnya tentang tingkatan keimanan seseorang mulai dari syariat, tarekat, hakikat, dan ma’rifat,” ungkap KH S Opu Daeng Mallonjo.


Menurut Opu Daeng Mallonjo, di masjid inilah ajaran Islam pertama kali diajarkan Datuk Sulaiman dan dua sahabatnya. Ajarannya itu kemudian berkembang ke kerajaan Luwu yang waktu itu berpusat di Malangke. “Dari sinilah asal mula perkembangan ajaran Islam di Sulsel. Makanya, dalam sejarah Islam Sulsel, masjid inilah yang pertama kali dibangun yakni sekira tahun 1593 masehi,” jelasnya.
Sisa-sisa budaya yang juga masih terjaga di Masjid Jami Bua, berupa Yasinan setiap Kamis malam. Yasinan ini tidak hanya dilakoni kaum dewasa, tapi juga anak-anak muda.


Perkembangan ajaran Islam yang begitu pesat waktu itu, membuat didirikan masjid kedua di Sulsel, yakni Jami Tua Palopo. Dalam sejarah singkatnya yang terpasang di samping pintu masuk masjid, tertulis susunan sejarah perkembangan Islam di Sulsel, yang disertai dengan sejarah pembangunan masjid.


Di papan berbingkai dan berkaca dengan tulisan ejaan lama itu, diceritakan sejarah Islam sebenarnya di Sulsel. Awalnya, ajaran Islam masuk di daerah Luwu (Kecamatan Bua) pada tahun 1593 masehi. Bukti sejarah masuk dan dianutnya ajaran Islam oleh masyarakat setempat waktu itu, yakni dibangunnya Masjid Jami Bua pada tahun yang sama. Di masjid inilah pertama kali dibentuk pengurus masjid dan perangkat adat yang menjabat posisi dalam penyebaran ajaran Islam.


Setelah ajaran Islam diterima Kerajaan Luwu sebagai agama kepercayaan masyarakatnya, maka dibangunlah masjid kedua yakni Masjid Jami Tua Palopo. “Masjid Jami Tua ini dibangun menggunakan batu kapur dan kayu Tjina Qoeri pada tahun 1603 Masehi oleh Fung Man Te. Semua sisi bangunan ini sarat dengan Islam,” kisah Abdul Latif, imam Masjid Jami Tua Palopo.


Dijelaskan, karena sarat dengan kaidah dan rukun dalam Islam, maka hampir semua sisi dalam dan luar masjid memiliki arti. Sebut saja, tiang masjid yang berjumlah lima unit. Tiang-tiang ini menggambarkan lima rukun Islam, dan lima waktu salat wajib dalam sehari semalam. Bukan hanya itu, bentuk tiang masjid yang bersegi 12 juga menyimbolkan tentang 12 suku bahasa yang ada di Kabupaten Luwu, waktu itu dengan kepercayaan ajaran Islam.


Jendela-jendela kecil di bagian depan imam yang berjumlah 12 buah juga memiliki simbol waktu dalam setahun, yakni sebanyak 12 bulan. “Jendela besar sebanyak tujuh buah di samping kiri dan kanan serta enam buah di belakang konon sebagai simbol 20 sifat-sifat Allah swt yang patut kita amalkan,” beber Abdul Latif.


Menurut Latif, budaya atau kebiasaan masyarakat yang tetap terjaga dan rutin dilakukan di Masjid Jami Tua Palopo adalah rutin dzikir pada Kamis malam serta barzanji pada Jumat malam. “Sejarah masjid ini telah mendapatkan pengakuan pemerintah pusat. Bahkan, beberapa wisatawan asing banyak yang telah meluangkan waktu mengunjungi masjid ini karena cerita sejarahnya,” tandas Latif.


Latif sendiri mengaku telah mengabdikan dirinya untuk menjadi pengurus Masjid Jami Tua Palopo sejak tahun 1978. Waktu itu, dirinya memulai aktivitas di masjid tersebut sebagai juru sapu. Kini, warga Palopo keturunan arab ini telah menjabat sebagai imam masjid untuk waktu salat Dhuhur dan Ashar.
Selama bulan suci Ramadan, uasana di masjid kebanggaan masyarakat Luwu Raya itu ramai dijadikan sebagai tempat bertadarrus dan berzikir, baik siang maupun pada malam hari.

No comments:

Post a Comment

pertanian tugas

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...