Tuesday, January 10, 2012

PROFIL PERUSAHAAN NESTLE

PROFIL PERUSAHAAN NESTLE

A. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERUSAHAAN
Nestlé merupakan produsen makanan terkemuka di dunia yang memasok lebih dari 10
juta produk makanan ke pasaran setiap tahunnya. „Good Food, Good Life‟ merupakan slogan
Nestlé yang menggambarkan komitmen Nestlé sebagai produsen makanan yang peduli akan
kesehatan umat manusia dengan menghasilkan makanan yang sehat, bermutu, aman,
berkualitas, bergizi, dan menyenangkan untuk dikonsumsi demi mewujudkan kehidupan
yang lebih baik.

Nestlé didirikan pada tahun 1866 di Vevey, Swiss. Pendirinya adalah Henry Nestlé,
seorang ahli gizi berkebangsaan Jerman. Hal yang melatarbelakangi Henry Nestlé adalah
banyaknya bayi yang meninggal dunia sebelum usia mereka mencapai satu tahun, hal ini
dikarenakan para ibu tidak dapat menyusui sendiri bayinya. Terlebih lagi saat teman Henry
Nestlé menghampiri dirinya untuk menyelamatkan bayi prematur. Henry Nestlé kemudian
membawa bayi itu kerumahnya dan memberikan makanan berupa paduan dari roti, susu dan
gula. Kondisi bayi tersebut pun berangsur pulih dari hari ke hari. Penemuan ini memberikan
kabar gembira dan langsung tersebar luas.
„Ferine Lactee Nestlé‟ mejadi makanan pendamping ASI sekaligus makanan penambah
gizi yang berhasil menekan angka kematian bayi. Sejak saat itu Nestlé menjadi perusahaan
produsen makanan yang mendapat kepercayaan dari masyarakat. Henry Nestlé
memanfaatkan nama keluarganya 'Nestlé', yang dalam bahasa Jerman Swiss berarti sarang
burung kecil (little nest), menjadi logo perusahaannya. Logo tersebut menjadi lambang rasa
aman, kasih sayang, kekeluargaan dan pengasuhan.
Henry Nestlé bukan saja melahirkan makanan bayi yang bermutu, namun juga menjadi
orang Swiss pertama yang membangun industri modern yang berpikir akan pentingnya citra
merek dan perusahaan. Melalui simbol dua anak burung dalam sarang bersama induknya
dengan penuh kasih sayang memberi makanan kepada anakanya, citra Nestlé langsung
dikenal sebagai perusahaan yang menghasilkan makanan bermutu penuh gizi. Simbol ini
kemudian diubah pada tahun 1868 dan langsung diterapkan di berbagai materi iklan dan
publikasi. Sampai sekarang, logo ini tetap digunakan dalam nuansa modern sesuai dengan
kemajuan zaman.

Pada tahun 1910 susu „Tjap Nona‟ masuk ke pasaran Indonesia melalui distributor yang
ada di Singapura. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1965 pemerintah membuka
kesempatan berinvestasi bagi investor asing. Kebijakan ini mendorong Nestlé dan para
mitranya untuk membuka usaha di Indonesia. Pada tanggal 29 Maret 1971, Nestlé S.A yang
berpusat di Vevey, Swiss bersama mitra lokalnya mendirikan PT. Food Specialties
Indonesia. Pabrik pertama didirikan di Waru, Jawa Timur. Pabrik ini didirikan pada tahun
1972 dan mulai beroperasi pada tahun 1973 yang menghasilkan susu Tjap Nona.
Pada awal 1980 produksi susu segar mengalami peningkatan drastis, kondisi tersebut
merupakan salah satu keberhasilan PT Food Specialties Indonesia dalam membina petani
sapi perah. Hal ini mendorong PT Food Specialties Indonesia mendirikan pabrik baru. Pabrik
ini didirikan di Kejayan pada tahun 1984 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun
1988 serta diresmikan oleh Presiden RI (pada saat itu) Soeharto, pada Juni 1988.
Pada tahun 1979, PT Nestlé Beverages Indonesia (dahulu bernama PT Indofood Jaya
Raya) yang memiliki pabrik di Panjang, Lampung, mulai memproduksi kopi instan
„Nescafé‟. Selain pure coffee, PT Nestlé Beverages Indonesia juga memproduksi mixes
coffee dalam berbagai aroma. Pada tahun 1997 Nescafé mulai memasuki pasaran Rusia
dalam kemasan jar dan dua tahun kemudian produksi kopi instan dalam kemasan kaleng
dihentikan. Selanjutnya pada tahun 2001 sebagian proses pengemasan untuk produk 3in1
diserahkan ke co-manufacturer dan PT Nestlé Beverages Indonesia berganti nama menjadi
PT Nestlé Indonesia.

Pada tahun 1988 Nestlé pusat mengakusisi Rowntree Macintosh dari Inggris sehingga
membuka peluang Nestlé untuk mengembangkan usahanya di bidang kembang gula. Pabrik
PT Food Specialties Indonesia yang merupakan anak perusahaan Nestlé mengambil alih PT
Multi Rasa Agung, yang memiliki pabrik di Cikupa, Tangerang dan menghasilkan permen
dengan merek dagang „Foxs‟. Pada tahun 1990 diresmikan pabrik baru di Cikupa,
Tangerang. Pada tahun 1992, dalam rangka memperluas usahanya, PT Multi Rasa Agung
memperluas pabriknya dan memproduksi permen dengan merek dagang „Polo‟. Pada 1996
PT Multi Rasa Agung berganti nama menjadi PT. Nestlé Confectionery Indonesia dan mulai
memproduksi „Nestea Powder‟ pada tahun 1997.
Selain pabrik Waru, Kejayan, Cikupa dan Panjang, Nestlé Indonesia juga memiliki
sebuah pabrik di Telaga yang memproduksi mie instan. Sejak tahun 1999 dilakukan
penggabungan manajemen secara bertahap di PT Nestlé Indonesia dan pabrik-pabriknya.
Pada Desember 1999, PT Nestlé Indonesia dan PT Nestlé Asean Indonesia berubah menjadi
PT Nestlé Indonesia, yang kedua pada akhir tahun 2000 PT Nestlé Confectionery Indonesia
bergabung dengan PT Supmi Sakti, kemudian berubah menjadi PT Nestlé Indonesia dan
pabrik Telaga ditutup. Ketiga, pada akhir tahun 2001 PT Nestlé Beverages Indonesia dan PT
Nestlé Distribution Indonesia bergabung dengan PT Nestlé Indonesia. Pada Juni 2002,
pabrik Waru dilikuidasi dan digabung dengan pabrik Kejayan.
PT Nestlé Indonesia juga semakin memperluas usahanya dengan melakukan perjanjian
kerjasama dengan perusahaan lain. Salah satu kerjasama yang dilakukan berlangsung pada 1
April 2005. PT Nestlé dan PT Indofood Sukses Makmur, TBK melakukan kerjasama dalam
bentuk joint venture. Perusahaan ini diberi nama PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia
(NICI). Perusahaan ini menghasilkan produk-produk bumbu masakan yang akan dipasarkan
di Indonesia. Sejak tanggal 29 Desember 1993, PT Food Specialties Indonesia telah resmi
berganti nama menjadi PT Nestlé Indonesia.

Waktu Perkembangan
Abad 19 Produk Nestlé Milkmaid dikenal sebagai „Tjap Nona‟.
29 Maret 1971 Berdirinya PT Food Specialties Indonesia.
1972 Berdirinya Pabrik Waru, Jawa Timur.
1973 Pabrik Waru mulai beroperasi dengan menghasilkan produk susu.
12 April 1978 Berdirinya PT Indofood Jaya Raya yang kemudian berganti nama
menjadi PT Nestlé Beverages Indonesia.
1979 Berdirinya Pabrik Panjang, Lampung yang menghasilkan produk-
produk kopi.
1988 Berdirinya Pabrik Kejayan, Jawa Timur yang menghasilkan produk-
produk susu bubuk.
1990 Berdirinya Pabrik Cikupa, Tangerang yang menghasilkan produk-
produk confectionery.
1993 Perubahan nama PT Food Specialties menjadi PT Nestlé Indonesia.
1995 Pengakusisian PT Supmi Sakti yang memproduksi mie instant dengan
pabrik yang berlokasi di Telaga.
1998 PT Sumber Pangan Segar dan PT Rola Perdana ditunjuk sebagai
distributor utama PT Nestlé Indonesia. Selanjutnya kedua perusahaan
ini bergabung dan berganti nama menjadi PT Nestlé Distribution
Indonesia yang merupakan distributor tunggal.
2001 Penggabungan perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Grup PT
Nestlé Indonesia menjadi satu badan hukum PT Nestlé Indonesia.
2002 Pengintregasiaan Pabrik Waru dengan Pabrik Kejayan.
2005 Pembentukan joint venture dengan PT Indofood Sukses Makmur, TBK
dengan nama perusahaan PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia.

B. LOKASI PERUSAHAAN
PT Nestlé Indonesia berkantor pusat di Wisma Nestlé, Perkantoran Hijau Arkadia,
Menara B, Lantai 5 Jl. TB Simatupang Kav 88, Jakarta 12520, Indonesia
Saat ini, PT Nestlé Indonesia mempunyai 3 pabrik untuk menunjang proses produksi,
yaitu:
1. Pabrik Kejayan, didirikan pada tanggal 2 Juni 1988
Lokasi: Desa Kejayan, Pasuruan – Jawa Timur
Hasil Produksi: Susu bubuk, susu kental manis dan susu sterilisasi
2. Pabrik Panjang, didirikan pada tahun 1979
Lokasi: Desa Seampok, Panjang – Lampung
Hasil Produksi: Kopi bubuk dan kopi bubuk instan
3. Pabrik Cikupa, didirikan pada bulan Oktober 1990
Lokasi: Desa Bitung Jaya, Cikupa – Tangerang
Hasil Produksi: Permen, minuman serbuk teh instan, choco snack

Selain itu, daerah pemasaran PT Nestlé Indonesia juga dibagi menjadi empat wilayah
kantor penjualan, yaitu:
1. Kantor wilayah penjualan I
Kantor ini berlokasi di Jl. M.G. Manurung I Km. 9,3 Kelurahan Tanjung Morawa,
Medan, Sumatra Utara
2. Kantor wilayah penjuallan II
Kantor ini berlokasi di Jl. Paus no 91, Rawamangun, Jakarta Timur, DKI Jakarta
3. Kantor wilayah penjualan III
Kantor ini berlokasi di Jl. Berbek Industri I/ 23 komp. SIER, Waru, Surabaya, Jawa
Timur
4. Kantor wilayah penjualan IV
Kantor ini berlokasi di Jl. Kapasan Raya 3 (Makassar Industrial Estate), Makassar,
Sulawesi Tengah.

C. STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN
PT Nestlé Indonesia merupakan badan usaha Perseroan Terbatas (PT) yang merupakan
bentuk perusahaan untuk menjalankan perusahaan yang mempunyai modal usaha terbagi atas
saham-saham. Anggotanya memiliki hak suara penuh dalam rapat anggota, sehingga
pemegang saham atau anggota turut menentukan jalannya perusahaan tersebut.
Struktur organisasi yang berlaku di PT Nestlé Indonesia meliputi dua bagian, yaitu
struktur organisasi di kantor pusat dan struktur organisasi di setiap pabrik. Pemegang jabatan
tertinggi di PT Nestlé Indonesia adalah seorang Presiden Direktur yang mengepalai Divisi
Teknikal, Divisi Keuangan, Divisi Supply Chain, Divisi Sumber Daya Manusia, Divisi Legal
and Corporate Affairs, Divisi Penjualan, Divisi Infant Nutrition, Divisi Dairy Products,
Divisi Coffee and PPP (Popularly Position Products), Divisi Confectionery, Divisi Nestlé
Profesional, Divisi Liquid Products, Divisi Pelayanan Penjualan, serta Divisi Global.
Presiden direktur bersama masing – masing pimpinan divisi disebut sebagai Management
Committee (Macom).

D. VISI DAN MISI PERUSAHAAN
PT Nestlé Indonesia, sebagai salah satu produsen makanan terbesar di Indonesia memiliki
misi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat. Selain itu, visi dari PT
Nestlé Indonesia adalah:
1. Meraih kepercayaan konsumen, dan menjadi perusahaan makanan dan nutrisi yang
terkemuka serta terpandang di Indonesia
2. Menjamin keuntungan dan kelangsungan pertumbuhan jangka panjang dengan modal
yang efisien bagi perusahaan, melalui pelayanan yang mampu meningkatkan kualitas
kehidupan konsumen
3. Menjadi pemimpin pangsa pasar atau posisi no. 2 yang kuat di setiap kategori
Selain visi dan misi, PT Nestlé Indonesia juga menetapkan motto perusahaan mereka,
yaitu “Passion for Our Consumers”. Melalui motto ini, PT Nestlé Indonesia selalu berusaha
untuk memberikan yang terbaik bagi konsumennya. Berdasarkan hal ini pula, PT Nestlé
Indonesia menerapkan beberapa kebijakan Kualitas dan Kebijakan Keselamatan dan
Kesehatan Lingkungan.
Kebijakan Kualitas meliputi :
1. Produk dan jasa tidak pernah mengabaikan faktor keamanan pangan
2. Selalu mematuhi peraturan yang berlaku
3. Zero waste dan zero defect
4. Berkomitmen secara terus menerus untuk meningkatkan standar kualitas

Kebijakan Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan meliputi :
1. Karyawan dan mitra bisnis adalah alat yang paling berharga
2. Menerapkan praktek bisnis yang ramah lingkungan (mencegah pencemaran lingkungan)
3. Mematuhi semua peraturan di bidang lingkungan dan K3
4. Menihilkan kecelakaan kerja dan keluhan masyarakat
5. Perbaikan secara terus menerus di bidang lingkungan dan PT Nestlé Indonesia selalu
menerapkan nilai-nilai yang selama ini menjadi landasan bagi perusahaan dan seluruh
karyawan, nilai-nilai tersebut dikenal dengan istilah “PRIDE”, yang merupakan singkatan
dari Passion (Semangat), Respect (menghormati), Integrity (Integritas), Determination
(Gigih), dan Excellence (Unggul).
E. PROSES PENGEMBANGAN PRODUK BARU DI PT NESTLE
INDONESIA
Proses pengembangan produk baru di PT Nestlé Indonesia dapat dilihat pada Gambar 1.
Diketahui bahwa pengembangan produk baru di PT Nestlé Indonesia diawali dengan adanya
ide baru. Selanjutnya pihak pemasaran akan mengadakan survei konsumen awal mengenai
ide tersebut. Langkah ini bertujuan untuk melihat kelayakan ide tersebut untuk
dikembangkan menjadi produk yang nyata. Selain itu, survei konsumen ini juga bertujuan
untuk menggali informasi dari konsumen mengenai produk yang mereka sukai. Hasil survei
ini selanjutnya dijadikan sebuah konsep awal yang diberikan kepada pihak Manufacture.



Gambar 1. Diagram alir proses pengembangan produk baru di PT Nestlé Indonesia

Langkah awal yang dilakukan oleh pihak Manufacture adalah benchmarking. Pada
tahapan ini, pihak Manufacture memilih beberapa merek produk yang sesuai atau mendekati
konsep produk untuk diidentifikasi dan dijadikan acuan dasar produk. Merek yang dipilih
haruslah merek produk yang dianggap unggul di kelasnya. Unggulnya suatu merek terhadap
merek lain dapat diketahui melalui informasi pangsa pasar produk tersebut. Hasil dari proses
benchmarking selanjutnya dijadikan prototype yang kemudian diuji terhadap penerimaan
konsumen. Jika penerimaan konsumen menunjukan hasil yang positif, maka akan dilakukan
trial produksi, namun juka penerimaan konsumen menunjukan hasil yang negatif maka akan
dilakukan kajian ulang terhadap prototype. Hasil produk dari trial yang telah dilakukan
kemudian diuji kepada konsumen. Jika hasil dari uji konsumen menunjukan hasil yang
positif maka produk siap untuk diregistrasi ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),
namun jika hasil uji konsumen menunjukan hasil negatif, maka akan dilakukan trial ulang
berdasarkan kajian hasil uji.
Produk yang telah lolos uji konsumen dan selanjutnya akan diregistrasi membutuhkan
dokumen mengenai uji kualitas dan analisis kimia, fisik serta mikrobiologi yang disiapkan
oleh bagian Regulatory Affair. Jika produk lolos registrasi dan mendapat persetujuan BPOM,
maka perusahaan akan menyiapkan kemasan yang kemudian diikuti dengan produksi produk
secara industrial. Setelah melalui tahapan tersebut, maka produk baru telah siap untuk
dipasarkan.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...